news24xx.com
Monday, 16 Sep 2019

Angka Perkawinan Bawah Umur di Indonesia Masih Tinggi, Ini Resiko yang Mengancam

news24xx


IlustrasiIlustrasi

News24xx.com -  Pemerintah Indonesia percaya bahwa pernikahan di bawah umur adalah salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tingginya kematian ibu, yang didorong oleh organ reproduksi ibu yang belum mencapai kematangan untuk menjalani persalinan.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa satu dari empat wanita di Indonesia menikah di bawah usia 18 tahun pada 2008-2015.

Sementara itu, data dari penelitian jender dan seksualitas Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2015 mengungkapkan pernikahan di bawah umur negara itu berada di peringkat kedua di Asia Tenggara, dengan sekitar 2 juta anak perempuan di Indonesia di bawah usia 15 tahun mengikat simpul, dan dengan demikian putus sekolah . Angka ini diharapkan tumbuh menjadi 3 juta pada tahun 2030.

Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mencatat 1.348.866 anak perempuan di bawah 18 tahun mengambil risiko pada tahun 2018. Mereka juga mengungkapkan bahwa sekitar 300.000 anak perempuan di Indonesia berjanji akan melakukan hal yang sama sebelum mereka mencapai usia 16 tahun.


Kemiskinan adalah salah satu dari banyak faktor yang telah mendorong remaja atau milenium untuk menikah di bawah umur. Menteri KPPPA Yohana Susana Yembise mengatakan bahwa anak perempuan dari keluarga miskin secara finansial dua kali lebih mungkin untuk dinikahkan pada usia muda.

"Perkawinan di bawah umur identik dengan pernikahan yang diatur oleh orang tua mereka atas nama ekonomi," kata Menteri Yohana.

 

 

 

NEWS24XX.COM/PAR

NEWS24XX.COM

Can be read in English and 100 other International languages





loading...
Versi Mobile
Loading...