news24xx.com
Sunday, 05 Apr 2020

Mantap! Meski Sangat Dekat Dengan Cina, Upaya Jepang Mengendalikan Virus Corona Patut Diacungi Jempol

news24xx


IlustrasiIlustrasi

News24xx.com - Meskipun dekat dengan Cina, warga Jepang seolah tampak seperti belum sadar bahaya dari virus corona yang telah memaksa banyak negara Di Eropa dan Amerika Utara melakukan "lockdown".

Ribuan orang di Jepang masih tampak ramai duduk di bawah pohon bunga sakura di taman-taman dan di sepanjang jalan, makan siang dan minum bir bersama, dan juga memotret selfie dengan bunga sakura yang mulai kembang.

Jepang sejauh ini memiliki 10 kluster wabah, dengan hampir 1.200 kasus COVID- 19 dan 43 kematian akibat virus corona sudah dikonfirmasi tanggal 24 Maret. Hanya beberapa lusin infeksi baru yang dilaporkan setiap hari. Angka infeksi baru ini seharusnya terus bertambah karena kepadatan penduduk di Jepang.

Ditambah lagi, Jepang berhubungan dekat dengan Cina. Pada bulan Januari, sekitar 925.000 orang dari Cina melakukan perjalanan ke Jepang, sementara 89.000 lainnya melakukan perjalanan pada bulan Februari di saat wabah COVID-19 memuncak di Cina.

Baca Juga: Proses Pemakaman Korban Corona Termuda Di Inggris; Keluarga Hanya Dapat Menyaksikan Secara Online

www.jualbuy.com

Tetapi toko-toko dan restoran masih tetap buka, hanya sedikit karyawan Jepang yang memutuskan untuk bekerja dari rumah.

 

Menutupi fakta penularan

Rendahnya jumlah kasus COVID-19 yang dikonfirmasi oleh pemerintah Jepang, memicu kecurigaan bahwa pemerintah menutupi fakta yang sebenarnya.

Meski memiliki kapasitas untuk melakukan 6.000 tes diagnostik per hari, Jepang hingga saat ini hanya menguji sekitar 14.000 sampel. 

Dibalik hal itu, pemerintah Jepang ternyata memiliki pemikiran yang cemerlang. Berdasarkan laporan Masahiro Kami, pakar virologi Pemerintah Jepang, hanya pasien dengan gejala paling parahlah yang ditest, di Jepang. 

"Rendahnya jumlah tests dimaksudkan untuk memastikan bahwa sumber daya perawatan kesehatan tetap tersedia untuk kasus infeksi serius", ujar Sebastian Maslow, seorang ilmuwan politik Jerman di Universitas Tokyo kepada DW.

Para ahli di Kementerian Kesehatan berulang kali mengatakan bahwa mereka mencari lonjakan kasus COVID-19 untuk mencegah penyebaran virus, daripada melakukan tes secara luas. Ketika wabah itu menyebar di sebuah sekolah dasar di pulau Hokkaido di utara Jepang misalnya, pihak berwenang menutup semua sekolah di Prefektur dan menyatakan keadaan darurat. Setelah tiga minggu, penyebaran virus telah dihentikan.

Baca Juga: Dilarang Solat Jumat Di Mesjid Karachi, Orang-Orang Muslim Di Pakistan Bentrok Dengan Polisi

Masker "bagian dari kehidupan kita sehari-hari"

Etika sapaan Jepang – membungkuk bukan jabat tangan atau ciuman di pipi juga berperan dalam memperlambat wabah, seperti halnya edukasi kebersihan yang diajarkan sejak usia dini.

"Mencuci tangan, berkumur dengan larutan desinfektan, dan mengenakan masker adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Virus corona tidak perlu mengajarkan hal itu kepada kita," kata seorang ibu dua anak di Jepang. 

"Orang Jepang mengerti bahwa seseorang dapat terinfeksi tanpa menunjukkan gejala", kata Michael Paumen, seorang manajer bisnis asal Jerman yang telah lama tinggal di Jepang: "Anda mengenakan masker untuk melindungi orang lain, dan kita sendiri tidak menularkan virus. "

Meluasnya penggunaan masker wajah tak hanya memperlambat penyebaran COVID-19, hal ini juga mengurangi jumlah pasien flu dalam kurun waktu tujuh minggu sejak penyebaran virus corona. Sebuah studi baru-baru ini oleh lima dokter Barat, menemukan bahwa masker dapat mengurangi penularan cairan tubuh atau aerosol yang mengandung partikel virus oleh pemakai masker.

Terlepas dari jarak sosial dan kebiasaan mencuci tangan, para ahli juga menyimpulkan bahwa masker wajah dapat memainkan peran penting dalam memperlambat penyebaran virus, dengan menunjuk pada tingkat infeksi yang rendah di Jepang.

 

Perlahan kembali normal

Mengingat keberhasilan ini, pemerintah Jepang pun menahan diri dari menyatakan keadaan darurat nasional. Sejak itu, warga Jepang perlahan-lahan kembali melakukan aktivitas sehari-hari. Tempat les kembali beroperasi, namun anak-anak duduk terpisah di ruangan yang memiliki ventilasi udara yang baik. Taman hiburan juga telah dibuka kembali, tetapi orang yang sakit diminta untuk menjaga jarak.

NEWS24XX.COM/CTR
 

NEWS24XX.COM

Can be read in English and 100 other International languages





loading...
Versi Mobile
Loading...