news24xx.com
Friday, 05 Jun 2020

Mengapa Kondisi Pasien Corona Tiba-Tiba Memburuk di Minggu Kedua, Begini Penjelasannya

news24xx


IlustrasiIlustrasi

News24xx.com

Mengapa kondisi sejumlah pasien Corona umumnya memburuk di minggu kedua setelah menunjukkan adanya gejala?

Seperti yang dialami seorang pasien COVID-19 di Kepahiang, Bengkulu, yang telah menjalani isolasi sejak Selasa pekan lalu (21/4).

Menurut laporan media setempat, tiga warga Desa Tebat Monok yang dinyatakan positif dan dirujuk ke RSUD Kepahiang, terdiri atas ayah, ibu dan anak.

Baca Juga: Era New Normal; Ketahui Saat Yang Tepat Pakai Sarung Tangan Lateks

www.jualbuy.com

"Ibu dan anak dalam kondisi stabil, namun sang suami atau ayah dalam perburukan kondisi gangguan pada saluran pernapasan atas," kata Kepala Dinas Kesehatan Bengkulu, Herwan Antoni.

Meski kebanyakan orang yang terinfeksi COVID-19 hanya mengalami gejala ringan dan akhirnya sembuh dalam waktu satu atau dua minggu, namun tercatat 15 persen orang harus dirawat di rumahsakit. Lima persen di antaranya kritis.

Para pakar medis menyebutkan dalam beberapa kasus terutama ketika kondisi pasien memburuk belakangan, penyebabnya bisa jadi bukan karena virusnya. Tapi justru karena respon tubuh terhadap virus.

Reaksi kekebalan tubuh yang berlebihan ini, yang dikenal sebagai cytokine storm atau badai sitokin, dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut.

Terkadang sistem kekebalan tubuh secara keliru menjadi berlebihan dan tetap aktif lama setelah virus tak lagi menjadi ancaman.

Mereka yang berusia lebih tua, memiliki kondisi medis kronis atau sistem kekebalan tubuh yang terganggu, umumnya bisa mengalami lebih parah saat terinfeksi COVID-19.

Sangat sulit untuk mengetahui sejauh mana sistem imun seseorang menyebabkan kerusakan dalam kasus COVID-19.

Baca Juga: Inilah Alasan Mengapa Anda Tidak Boleh Melewatkan Sarapan

Orang yang mengalami penyakit COVID-19 yang lebih serius biasanya memiliki tanda-tanda peningkatan peradangan, terutama di paru-paru.

"Pada tahap banyak peradangan di paru-paru, seringkali memiliki kadar oksigen sangat rendah, sehingga harus dibantu ventilator," jelas Dr Elliot.

Biasanya pasien akan merasa tidak nyaman di bagian dada atau kesulitan bernapas. Tapi sejumlah pasien COVID-19 justru tak merasakan sesak napas, bahkan ketika kadar oksigennya turun.

Artinya, dalam kasus COVID-19, meski tingkat oksigen dalam tubuh seseorang cukup rendah, ia tidak merasa terengah-engah.

Itulah yang mungkin menjelaskan mengapa sejumlah pasien dengan gejala ringan, tiba-tiba kondisinya mengalami penurunan drastis.

 





loading...
Versi Mobile
Loading...