news24xx.com
Friday, 05 Jun 2020

Tenaga Kesehatan yang Bertugas di Garis Depan Belum Menerima Insentif Kesehatan yang Dijanjikan

news24xx


Tenaga Kesehatan yang Bertugas di Garis Depan Belum Menerima Insentif Kesehatan yang DijanjikanTenaga Kesehatan yang Bertugas di Garis Depan Belum Menerima Insentif Kesehatan yang Dijanjikan

News24xx.com - Pekerja medis yang merawat pasien COVID-19 di Jakarta telah melaporkan bahwa mereka belum menerima insentif keuangan yang diumumkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah provinsi pada bulan Maret.

Seorang dokter umum yang berpusat di Jakarta, Arif, yang meminta untuk menggunakan nama samaran, mendiskusikan pengalamannya dan rekan-rekan lainnya ketika merawat pasien COVID-19 di unit perawatan intensif (ICU), ruang gawat darurat dan bangsal lain di rumah sakit di Jakarta. Dia juga merawat pasien yang diduga dan dikonfirmasi dengan gejala ringan di ruang isolasi.

Baca Juga: Anaknya Menangis Ketakutan Pertaruhkan Nyawa, Sang Ibu Justru Tertawa

www.jualbuy.com

Arif, yang memilih untuk tidak mengungkapkan nama rumah sakit tempat dia bekerja, mengatakan itu adalah bagian dari kelompok rumah sakit swasta yang ditunjuk oleh pemerintah untuk merawat pasien penyakit menular yang baru muncul, sebagaimana diatur dalam surat edaran yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan.

Namun, dia belum mendengar berita tentang insentif pemerintah untuk pekerja medis di rumah sakit.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengatakan sebelumnya bahwa pemerintah telah mengalokasikan Rp 5,9 triliun untuk diberikan sebagai insentif bagi pekerja medis yang merawat pasien yang dikonfirmasi. Pemerintah mengatakan akan memberikan setiap spesialis medis insentif sebesar Rp 15 juta, dokter dan dokter gigi Rp 10 juta, perawat Rp 7,5 juta dan anggota staf medis lainnya Rp 5 juta.

Gubernur Jakarta Anies Baswedan sebelumnya mengumumkan insentif tambahan Rp 215.000 setiap hari untuk tenaga medis di ibu kota.

Sejak kedua pemimpin mengumumkan program pada bulan Maret, tidak ada yang memberikan informasi terbaru mengenai perkembangan pembayaran. Sementara itu, pekerja medis di banyak rumah sakit telah melihat pemotongan gaji dan bonus liburan Idul Fitri.

Baca Juga: Bagikan Kisah Cintanya Dengan Bule Cantik, Petugas Kebersihan DKI Jakarta Ini Mendadak Viral

Pengalaman Arif digaungkan oleh Ratna, yang juga memilih untuk dirujuk dengan nama samaran. Dia adalah perawat yang merawat pasien COVID-19 di ICU Rumah Sakit Umum Fatmawati di Jakarta Selatan.

Dia mengatakan dia dan rekan-rekannya belum menerima insentif keuangan, karena rumah sakit harus memverifikasi kehadiran karyawan, ketepatan waktu dan sejauh mana mereka terpapar virus sebelum mendistribusikan dana.

“Saya sudah bertanya divisi keuangan dan sumber daya manusia rumah sakit saya. Mereka menjawab bahwa mereka masih menghitung jumlah orang yang memenuhi syarat untuk itu, "katanya.

Arif melihat pemotongan 30 hingga 35 persen dalam gajinya bulan lalu. Gajinya ditentukan oleh jumlah pasien yang dirawat, dan Departemen Kesehatan telah menyatakan bahwa tingkat hunian rumah sakit telah menurun antara 20 dan 50 persen secara nasional.

Selain itu, kementerian belum sepenuhnya membayar klaim rumah sakit untuk PDP, sehingga memengaruhi pendapatan fasilitas.

Sekretaris Direktorat Jenderal Layanan Kesehatan kementerian, Agus Hadian Rahim, mengatakan pemerintah pusat telah bekerja untuk membayar insentif kepada pekerja medis. "Kami sedang memproses pembayaran dan klaim rumah sakit," katanya tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Dinas Kesehatan Jakarta tidak menanggapi permintaan Pos untuk berkomentar.

Hingga Jumat, 6.400 kasus COVID-19 telah dikonfirmasi di ibukota dan 500 orang telah meninggal.

Lembaga Pengembangan Ekonomi dan Keuangan (Indef) ekonom Bhima Yudhistira mendesak Kementerian Kesehatan dan pemerintah Jakarta untuk membayar stimulus.

“Kesulitan keuangan dapat memengaruhi kinerja pekerja medis. Stimulus segera sangat dibutuhkan karena mereka berjuang di garis depan melawan penyakit, ”katanya.





loading...
Versi Mobile
Loading...