news24xx.com
Friday, 25 Sep 2020

Tak Rela Tanahnya Dijadikan Jalan Pintas Untuk Warga, Warga Asal Sragen Bangun Tembok Di Perkarangannya

news24xx


Pembongkaran tembok di perkarangan SonemPembongkaran tembok di perkarangan Sonem

News24xx.com - Akses jalan dukuh selebar tiga meter di Dukuh Ngledok, Desa Gading, Kecamatan Tanon, Sragen, ditutup tembok oleh salah satu warga. Meski diprotes warga, pemilik lahan bersikukuh menutup jalan karena yakin jalan tersebut masuk ke lahannya.

Kejadian penutupan jalan tersebut viral di media sosial. Salah satunya dibagikan di akun Facebook Kumpulan Wong Sragen (KWS). Hingga sore pukul 14.55 WIB ini, unggahan tersebut menuai 1.500 like dan dikomentari 1.900 orang.

Tembok itu tampak dibangun melintang dengan ketinggian sekitar satu meter dengan lebar sekitar tiga meter. Tembok itu dibangun dari bahan hebel warna putih, dan dibangun di sisi utara dan selatan jalan dengan jarak sekitar 25 meter.

Baca Juga: Waspada! Hanya Karena Bahan Bangunan Ini, Gadis Muda Asal Inggris Alami Kanker Langka Yang Mengerikan

Tembok tersebut, berdampak pada sekitar 11 kepala keluarga (KK) yang kesehariannya melewati jalan tersebut. Meski tidak sampai terisolir, warga harus memutar hingga 500 meter untuk melewati jalur lain.

Keputusan menutup tersebut diambil oleh anak pemilih lahan, Sonem (60). Sonem yang tinggal di Dukuh Magersari ini memutuskan menutup lahan karena merasa jalan tersebut merupakan pekarangannya.

"Ini jalan masuk ke lahan saya. Tahu-tahu jalannya dibangun cor jadi selebar ini, saya tidak diberi tahu. Saya sudah bilang Pak Lurah untuk menutup," kata Sonem.

Diwawancara terpisah, Kepala Desa Gading Puryanto mengatakan pihaknya telah melakukan upaya mediasi dengan memanggil pihak terkait ke balai desa. Dalam mediasi ini, akhirnya muncul kesepakatan untuk membongkar tembok yang menutup jalan tersebut.

Baca Juga: Waspada! Hanya Karena Bahan Bangunan Ini, Gadis Muda Asal Inggris Alami Kanker Langka Yang Mengerikan

"Setelah kita pertemukan dengan Muspika tadi, sertifikat (tanah) dua-duanya kita pertemukan, kan ada gambar jalan. Ya sudah tadi kesepakatan jalan itu harus tetap ada. Satu meter diambilkan dari lahan To Pawiro, satu meter dari lahan Parno, jadi total lebar jalan jadi dua meter," kata Puryanto.

Puryanto menerangkan saat pembongkaran tembok itu sempat terjadi ketegangan antara ahli waris To Pawiro, Sonem, dengan warga setempat. Menurut Puryanto Sonem bersikukuh membangun tembok itu karena jalan tersebut masuk di lahan warisan ayahnya.

"Sempat ada perdebatan, namun kita lakukan pendekatan. Kita terangkan kepada Sonem bahwa jalan itu memang diberikan ayahnya untuk akses warga. Itu pun sebenarnya tidak seluruhnya jalan memakai lahan Sonem, ada satu meter yang memakai lahan milik Parno," terang Puryanto.

Dari kesepakatan itu, lahan Sonem akhirnya hanya diambil sekitar satu meter dan satu meter lagi diambilkan dari lahan Parno yang berada di sebelahnya. Sonem pun akhirnya merelakan lahannya selebar satu meter dan sepanjang 25 meter.
 





loading...
Versi Mobile
Most Popular
Loading...