news24xx.com
Friday, 23 Aug 2019

Warga Sei Guntung Inhu Tuntut Janji PT TSM Bangun Kebun Sawit

news24xx


Kebun sawitKebun sawit

News24xx.com - Masyarakat Desa Sungai Guntung, Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, merasa telah dibohongi oleh perusahaan kebun sawit PT Tani Subur Makmur (TSM) yang beroperasi di kawasan itu.

Pasalnya, warga merasa dibodoh-bodohi pihak perusahaan terkait kerja sama pembangunan kebun sawit.
Kondisi itu sudah terjadi bertahun-tahun. Sudah 12 tahun pembangunan kebun sawit berjalan, namun hingga saat ini warga belum juga mendapatkan hasil apa pun dari usaha tersebut.

Hal itu diungkapkan Joni, salah seorang warga Desa Sungai Guntung, ketika ditemui usai mengadukan permasalahan itu ke Kantor Kanwil Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Kemenkumham) Provinsi Riau di Pekanbaru, Kamis 1 Maret 2018.

Permasalahan antara warga dengan perusahaan itu ibarat merajuk benang kusut.

Dikatakan, hal itu bermula saat ada kesepakatan kerja sama antara PT TSM yang merupakan milik putra daerah dengan masyarakat melalui Koperasi Al Barokah. Dalam hal ini, pihak perusahaan mengelola lahan milik masyarakat desa, dengan sistem Kredit Koperasi Primer Anggota (KKPA).

Kesepakatan itu ditandatangani sebanyak 900 kepala keluarga. Namun sejak kesepakatan dibuat, hingga kini masyarakat belum merasakan hasil apa pun.

"Perjanjian sudah tidak transparan lagi dengan warga. Banyak kejanggalan dalam isi perjanjian kerjasama dan Mou dibuat perusahaan dan koperasi. Sehingga berujung pada pelanggaran yang tidak sesuai kesepakatan awal," ujarnya.

Sesuai perjanjian awal, pihak perusahaan akan membangun kebun sawit di atas lahan seluas 4 ribu hektare di desa itu. Sebagai perwakilan masyarakat, ditunjuklah Koperasi Al Barokah. Dalam perjanjian itu, diatur mengenai bagi hasil keuntungan untuk masyarakat yang diwakili pihak koperasi.

Namun anehnya, masyarakat selaku pemilik lahan tak diberi Kartu Tanda Anggota (KTA) koperasi.

Belakangan diketahui, perusahaan hanya mampu membuka lahan seluas 2.700 hektare, atau kurang dari perjanjian semula yakni 4 ribu hektare. Sedangkan sisanya tidak diketahui bagaimana nasibnya.


"Tapi faktanya perusahaan hanya mampu menguasai lahan 300 hektare yang ditanami sawit, sisanya tidak jelas. Alasannya, izin pelepasan lahan tidak dimiliki," terang Joni.

Sementara isi perjanjian perusahaan, koperasi antara warga pun masih terlihat adanya ketidak transparanan sejak awal penandatangan yang dilakukan tahun 2013 hingga sekarang. Sejak ditanami sawit tahun 2009 sampai 2016, hasilnya warga cuma mendapat uang Rp35 ribu.

"Adanya pembodohan dengan ketidak terbukaan semuanya, mulai perjanjian, hasil panen dan berapa kredit yang dibayarkan warga per kaplingnya. Semua tidak tau, tapi sejak ditanami sawit sampai sekarang baru Rp35 ribu yang kita diterima," kata Joni.

Berbagai upaya sudah dilakukan warga. "Kita sudah menyurati Bupati Inhu, Kapolres dan pihak terkait lainnya untuk mencari solusi terbaik. Tapi apa hasilnya, nol besar. Meski pernah kami melakukan unjuk rasa tahun 2016 silam, berujung mediasi tapi juga belum ada kepastian," terang Joni.

Joni juga menyesalkan, sebanyak 900 Kartu Keluarga yang berpenghuni di Desa Sungai Guntung, mayoritas miskin. Bahkan untuk menyewa pengacara pun tidak sanggup dengan kondisi seperti ini.

"Untuk makan pun kami tidak punya apa-apa, serba kurang sebagian warga di sini rata-rata kurang mampu. Dengan kondisi saat ini, kami semua membutuhkan keajaiban untuk membantu permasalahan ini sampai tuntas," lanjut Joni.

Meski beberapa tahun menjalani cobaan yang berat ini, untuk mencari keadilan layak telah dilakukan. Joni beserta 3 orang warga lainnya turun langsung ke Pekanbaru mendatangi Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Wilayah Riau. Berharap mendapatkan bantuan.

"Tadi kita sudah melaporkan semua permasalahan ini ke Menkumham, mencari solusinya. Meski tak seperti yang kami inginkan hasilnya, tapi kami diberikan kemudahan untuk menggandeng pengacara secara gratis dibawah naungan Menkumham guna membantu usut kasus ini hingga tuntas," tambah Joni.

Sementara itu, pihak PT TSM belum berhasil dihubungi untuk diminta tanggapannya mengenai tuntutan warga. 

 

 

 

News24xx.com/army/hpn

 

NEWS24XX.COM

Can be read in English and 100 other International languages





loading...
Versi Mobile
Loading...